Mengenal Bangsa Arab Jahiliyah (2)
*009*
Mengenal Bangsa Arab Jahiliyah (2)
๐จ๐จ๐จ๐จ๐จ๐จ๐จ๐จ๐จ๐จ
๐จ๐จ๐จ๐จ๐จ๐จ๐จ๐จ๐จ๐จ
SUKA BERPECAH BELAH
〰〰〰〰〰〰〰〰〰
〰〰〰〰〰〰〰〰〰
๐ถ Dahulu masyarakat jahiliyah sangat bangga dengan perpecahan.
๐ถ Mereka menganggap perpecahan ini merupakan ekspresi dari kebebasan mereka, sebaliknya persatuan dan ketundukan kepada para pemimpin merupakan sebuah kerendahan.
๐ถ Perpecahan mereka tidak hanya dalam urusan agama, namun juga dalam urusan-urusan dunia mereka.
๐ถ Di dalam Al Qur’an Allah berfirman tentang mereka,
ََููุง ุชَُُููููุง ู
َِู ุงْูู
ُุดْุฑَِِููู (31)
ู َِู ุงَّูุฐَِูู َูุฑَُّููุง ุฏَُِูููู ْ ََููุงُููุง ุดَِูุนًุง ُُّูู ุญِุฒْุจٍ ุจِู َุง َูุฏَِْููู ْ َูุฑِุญَُูู (32)
ู َِู ุงَّูุฐَِูู َูุฑَُّููุง ุฏَُِูููู ْ ََููุงُููุง ุดَِูุนًุง ُُّูู ุญِุฒْุจٍ ุจِู َุง َูุฏَِْููู ْ َูุฑِุญَُูู (32)
| “Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang musyrik,
| yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka
| dan mereka pun menjadi bergolongan-golongan.
| Setiap golongan bangga dengan apa yang ada di sisi mereka.”
Ar Rum 31-32.
/// [7]
| yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka
| dan mereka pun menjadi bergolongan-golongan.
| Setiap golongan bangga dengan apa yang ada di sisi mereka.”
Ar Rum 31-32.
/// [7]
SUKA BERPERANG
〰〰〰〰〰〰〰
〰〰〰〰〰〰〰
๐ถ Bangsa Arab terkenal pula suka berperang.
๐ถ Akan tetapi mereka menghormati bulan-bulan tertentu yang disebut sebagai Asyhuril Hurum.
➖ Dzulqa’dah
➖ Dzulhijjah
➖ Muharram
➖ Rajab.
➖ Dzulqa’dah
➖ Dzulhijjah
➖ Muharram
➖ Rajab.
ุฅَِّู ุนِุฏَّุฉَ ุงูุดُُّููุฑِ ุนِْูุฏَ ุงَِّููู ุงุซَْูุง ุนَุดَุฑَ ุดَْูุฑًุง ِูู ِูุชَุงุจِ ุงَِّููู َْููู
َ ุฎَََูู ุงูุณَّู
َุงَูุงุชِ َูุงูุฃุฑْุถَ ู
َِْููุง ุฃَุฑْุจَุนَุฉٌ ุญُุฑُู
ٌ ุฐََِูู ุงูุฏُِّูู ุงَِّْูููู
ُ َููุง ุชَุธِْูู
ُูุง َِِّูููู ุฃَُْููุณَُูู
ْ
| Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan,
| dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi,
| di antaranya empat bulan haram.
| Itulah (ketetapan) agama yang lurus,
| maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu.
At Taubah, 36
/// [8]
| dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi,
| di antaranya empat bulan haram.
| Itulah (ketetapan) agama yang lurus,
| maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu.
At Taubah, 36
/// [8]
๐ถ Walaupun bangsa Jahiliyah memiliki berbagai macam tradisi yang buruk, akan tetapi pada diri mereka pun terdapat banyak akhlaq yang mulia.
๐ถ Di antara akhlaq tersebut adalah:
๐ KEDERMAWANAN
➖ Mereka dahulu dikenal dengan sifat yang dermawan,
➖ membantu dan melayani orang-orang yang membutuhkan.
➖ Salah satu bentuk kedermawanan mereka disebutkan dalam kisah berhala LATTA.
➖ membantu dan melayani orang-orang yang membutuhkan.
➖ Salah satu bentuk kedermawanan mereka disebutkan dalam kisah berhala LATTA.
๐ป Di dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan tentang asal muasal berhala Latta.
Kata beliau :
Kata beliau :
▪ “Al latta adalah patung putih yang berukir.
▪ Ia ditempatkan dalam sebuah rumah di Tha’if yang memiliki kelambu-kelambu dan juru kunci.
▪ Sekelilingnya terdapat halaman.
▪ Latta di agungkan oleh penduduk Tha’if”
▪ Ia ditempatkan dalam sebuah rumah di Tha’if yang memiliki kelambu-kelambu dan juru kunci.
▪ Sekelilingnya terdapat halaman.
▪ Latta di agungkan oleh penduduk Tha’if”
๐ป Kemudian Ibnu Katsir menjelaskan hakikat Latta dan membawakan hadits,
ุนู ุงุจู ุนุจุงุณ ุฑุถู ุงููู ุนููู
ุง ، ูู ูููู : { ุงููุงุช ูุงูุนุฒู } ูุงู ุงููุงุช ุฑุฌูุง ููุช ุณููู ุงูุญุงุฌ
| “Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhuma,
| beliau menafsirkan makna ayat ุงููุงุช ูุงูุนุฒู
| bahwa Latta adalah seorang lelaki yang membuat adonan roti untuk para jama’ah haji”
HR. Al Bukhari
| beliau menafsirkan makna ayat ุงููุงุช ูุงูุนุฒู
| bahwa Latta adalah seorang lelaki yang membuat adonan roti untuk para jama’ah haji”
HR. Al Bukhari
๐ป Ternyata Latta dulunya adalah seorang yang dermawan yang membuatkan roti kepada jama’ah haji dengan cuma-cuma. Ketika ia meninggal, orang-orang mengenangnya dan mendatangi kuburannya, lalu beribadah di sana. Lama-kelamaan ia diagungkan dan menjadi berhala yang disembah selain Allah. [9]
๐ MENEPATI JANJI
➖ Bangsa Arab juga dikenal menepati janjinya.
➖Untuk menetapi janjinya ini mereka bersedia untuk berkorban harta dan jiwa.
➖ Hal ini terekam dalam kisah Yaum Dzi Qaar sebagaimana yang disebutkan oleh Al Imam At Thabari dalam Tarikh beliau
➖Untuk menetapi janjinya ini mereka bersedia untuk berkorban harta dan jiwa.
➖ Hal ini terekam dalam kisah Yaum Dzi Qaar sebagaimana yang disebutkan oleh Al Imam At Thabari dalam Tarikh beliau
๐ป Dahulu ada seseorang Arab yang bernama Nu’man bin Mundzir.
▪ Suatu saat, Kisra sang raja Persia murka kepadanya.
▪ Ia takut akan dibunuh oleh Kisra.
▪ Ia pun menitipkan senjata, harta dan keluarganya kepada salah seorang pembesar Arab yang bernama Hani’ bin Mas’ud Asy Syaibani, lalu pergi menghadap Kisra.
▪ Kisra pun kemudian memenjarakan dan membunuhnya.
▪ Kisra mengutus orang kepada Hani’ untuk meminta titipan Nu’man. Hani’ menolaknya. Kisra kemudian mengirim pasukan untuk memerangi Hani’. Hani’ pun lalu mengumpulkan kaumnya dari Bani Bakr lalu berperang dengan gagah berani untuk menepati janjinya melindungi apa yang telah dititipkan oleh mendiang Nu’man bin Mundzir. [10]
▪ Suatu saat, Kisra sang raja Persia murka kepadanya.
▪ Ia takut akan dibunuh oleh Kisra.
▪ Ia pun menitipkan senjata, harta dan keluarganya kepada salah seorang pembesar Arab yang bernama Hani’ bin Mas’ud Asy Syaibani, lalu pergi menghadap Kisra.
▪ Kisra pun kemudian memenjarakan dan membunuhnya.
▪ Kisra mengutus orang kepada Hani’ untuk meminta titipan Nu’man. Hani’ menolaknya. Kisra kemudian mengirim pasukan untuk memerangi Hani’. Hani’ pun lalu mengumpulkan kaumnya dari Bani Bakr lalu berperang dengan gagah berani untuk menepati janjinya melindungi apa yang telah dititipkan oleh mendiang Nu’man bin Mundzir. [10]
๐ถ Ini menunjukkan karakter bangsa Arab (dulu) yang sangat menepati janji.
๐ MENJAGA HARGA DIRI
➖ Bangsa Arab pantang menerima pelecehan.
➖ Mereka tidak akan tinggal diam bila mendengar pelecehan terhadap diri atau kaum mereka.
➖ Bila terjadi pelecehan maka mereka tak segan-segan menghunus pedang dan mengacungkan tombak, dan mengobarkan peperangan yang panjang. Mereka juga tidak peduli bila nyawa mereka menjadi taruhannya demi mempertahankan sifat tersebut. [11]
๐ MENGANGGAP RENDAH DUSTA
▪ Disebutkan di dalam shahih Al Bukhari:
➖ bahwa suatu saat Abu Sufyan yang ketika itu masih musyrik pernah diintrogasi oleh Heraklius, Kaisar Romawi.
➖ Kaisar bertanya kepadanya tentang keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan dakwahnya.
➖ Sebenarnya Abu Sufyan bisa saja berdusta, akan tetapi dia tidak mau berdusta karena memang bangsa Arab malu dan menganggap rendah kedustaan.
➖ bahwa suatu saat Abu Sufyan yang ketika itu masih musyrik pernah diintrogasi oleh Heraklius, Kaisar Romawi.
➖ Kaisar bertanya kepadanya tentang keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan dakwahnya.
➖ Sebenarnya Abu Sufyan bisa saja berdusta, akan tetapi dia tidak mau berdusta karena memang bangsa Arab malu dan menganggap rendah kedustaan.
▪ Dia mengatakan,
ََููุงَِّููู َْูููุงَ ุงูุญََูุงุกُ ู
ِْู ุฃَْู َูุฃْุซِุฑُูุง ุนَََّูู َูุฐِุจًุง ََููุฐَุจْุชُ ุนَُْูู
“Demi Allah, kalau bukan karena malu dicap sebagai pendusta, pasti aku akan berbohong saat ia bertanya tentang nabi itu.”
HR. Al Bukhari.
HR. Al Bukhari.
๐ถ Demikian keadaan akhlak bangsa Arab di masa Jahiliyah.
๐ถ Sebagiannya memang tidak terpuji, namun sebagian yang lain merupakan akhlak-akhlak yang baik.
Wallahu a’lam bisshawab.
Group WA Siroh Nabi-ku
Ustadz Wira Albankawi
⏺▶ bersambung
Ustadz Wira Albankawi
⏺▶ bersambung
♨ CATATAN KAKI:
[7] Shalih Alu Syaikh, Syarh Masaail Jahiliyah, hlm. 15
[8] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anil Azhim surat At Taubah ayat 36.
[9] Ibid., Tafsir surat An Najm ayat 19.
[10] Ath Thabari, Tarikh Ath Thabari, 2/208.
[11] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum hal 38.
[7] Shalih Alu Syaikh, Syarh Masaail Jahiliyah, hlm. 15
[8] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anil Azhim surat At Taubah ayat 36.
[9] Ibid., Tafsir surat An Najm ayat 19.
[10] Ath Thabari, Tarikh Ath Thabari, 2/208.
[11] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum hal 38.
Comments
Post a Comment